Menumbuhkan Karakter dengan Literasi di SDIT Nurul Fajri

Oleh : Ade Rukmana, S.Pd.
G
erakan literasi SDIT Nurul Fajri adalah gerakan pembiasaan seluruh warga sekolah untuk melaksanakan membaca dan menulis. Pelaksanaan membaca dan menulis diharapkan menjadi budaya sekolah yang pada akhirnya menjadi karakter setiap warga sekolah. Adapun kegiatan literasi membaca adalah membiasakan siswa dan guru untuk membaca selama lima belas menit sebelum pelaksanaan kegiatan belajar mengajar baik di dalam kelas maupun di tempat lain yang direkomendasikan bisa dilaksanakannya proses membaca. Selain kelas, tempat yang direkomendasikan untuk proses literasi membaca seperti perpustakaan, labsains, dan halaman sekolah. Proses literasi membaca di perpustakaan dibuat secara terjadwal dan tidak terjadwal. Kegiatan terjadwal dilaksanakan setiap hari Selasa dari jam 7.15 – 7.45 dan setiap hari pada pelaksanaan pembiasaan ibadah kedua dari jam 11.45 – 12.45. Sedangkan kegiatan tidak terjadwal dilaksanakan setiap hari pada pelaksanaan pembiasaan ibadah pertama yaitu dari jam 9.30 – 10.00.
Tujuan dari literasi membaca adalah agar seluruh warga sekolah baik siswa maupun guru memiliki kebiasaan yang baik yaitu terlaksananya budaya membaca. Budaya membaca tidak hanya dilaksanakan di sekolah akan tetapi budaya ini diharapkan bisa meluas menjadi budaya membaca di rumah dan di lingkungan masyarakat. Warga sekolah memiliki karakter gemar membaca. Dengan karakter inilah mampu memberikan kontribusi terciptanya sumber daya manusia yang unggul karena memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas.
Selain itu, literasi membaca bertujuan agar semua warga sekolah khususnya siswa mampu memahami makna dari setiap bacaan, tidak sekedar membaca tapi tidak mampu memaknai isi bacaan. Sebagai contoh, jika siswa sudah paham akan makna sebuah tulisan yang dibaca, maka siswa tersebut bisa melaksanakan makna dari tulisan tersebut. Misalnya ada tulisan himbauan/larangan untuk melepas alas kaki saat masuk toilet, apabila siswa sudah paham makna tulisan tersebut, dengan sendirinya siswa akan melepas alas kakinya. Sebaliknya jika siswa tidak paham akan makna tulisan tersebut, siswa akan tetap masuk toilet dengan tetap memakai alas kaki, tidak menghiraukan himbauan atau larangan tersebut. Sangat miris jika itu terjadi, bagaimana dengan pemahaman terhadap tata tertib atau petunjuk cara penggunaan sesuatu yang biasa dipasang di suatu tempat?      
Tidak hanya budaya membaca saja yang diharapkan menjadi budaya sekolah. Namun budaya menulis pun mampu hadir dan menjadi budaya sekolah. Warga sekolah diharapkan mampu menuangkan ide atau gagasannya dalam sebuah goresan tinta tulisannya. Menciptakan literasi menulis menjadi budaya bahkan karakter warga sekolah merupakan suatu keharusan yang perlu diwujudkan agar muncul generasi-generasi yang piawai dalam mengolah kata-kata, hadir penulis-penulis hebat yang menginspirasi dengan menghadirkan karya-karya yang bisa mengubah peradaban dunia menjadi lebih baik.
SDIT Nurul Fajri pun hadir dan ikut andil dalam mewujudkan budaya literasi menulis. Gebrakan yang dilakukan antara lain pembiasaan menulis siswa seperti menulis cerita pendek, pantun, puisi, dan lain-lain. Karya terbaik diapresiasi, dipajang di mading kelas dan perpustakaan. Memberikan pelatihan atau training literasi kepada siswa dengan menghadirkan pakar dalam bidang literasi. Gebrakan yang luar biasa adalah dengan menerbitkan buku antologi pertama hasil karya goresan tinta siswa dan siswi SDIT Nurul Fajri yang berjudul “Tamasya Literasi”.         

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menumbuhkan Karakter dengan Literasi di SDIT Nurul Fajri"

Posting Komentar

Beri Komentar Yang Membangun