Budaya Positif
Assalamualaikum Wr Wb
Bapak dan ibu guru yang berbahagia. Bagaimana kabarnya? Semoga bapak dan ibu guru dalam kondisi sehat dan bahagia selalu. Selamat datang di blog AR_A Ragam Informasi. Pada kali ini saya akan berbagi tentang budaya positif. Materi ini merupakan muatan yang terdapat dalam modul 1.4 guru penggerak.
Budaya positif merupakan praktik
baik yang biasa dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Budaya
positif ini, harus dibiasakan mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan
masyarakat. Lingkungan sekolah memiliki peranan yang sangat penting dalam
mewujudkan budaya positif. Untuk mewujudkan budaya positif di sekolah, warga
sekolah perlu diajarkan, dibiasakan, dan dilatih secara konsisten dalam
melakukan praktik-praktik baik sehingga praktik baik tersebut menjadi
kebiasaan. Jika kebiasaan tersebut terus dilakukan secara konsisten, maka akan
menjadi karakter warga sekolah yang pada akhirnya menjadi budaya sekolah. Penerapan
budaya positif sekolah dapat diwujudkan dengan keteladanan dan pembiasaan dari
warga sekolah. Dalam hal ini, guru memiliki peranan yang sangat penting dalam
mewujudkan budaya positif sekolah. Salah satu cara dalam mewujudkan budaya
positif sekolah yang bisa dilakukan oleh guru yaitu menerapkan posisi kontrol
guru ketika berinteraksi dengan siswa.
Berikut adalah video posisi kontrol guru
ketika berinteraksi dengan siswa. Refleksikan, posisi kontrol guru yang manakah yang
dapat mewujudkan budaya positif di sekolah? Termasuk model guru yang mana
ketika kita berinteraksi dengan siswa selama ini?
Setelah menyimak video, berikut adalah gambaran umum dari masing-masing posisi kontrol guru.
1. Bersikap baik dan tegas di
saat yang bersamaan (menunjukkan sikap hormat dan memberi semangat).
2. Membantu murid merasa
dihargai dan memiliki keterikatan antara dirinya dengan guru dan teman di
kelasnya, sehingga ia merasa menjadi bagian dari kelas.
3. Memiliki komitmen untuk
mempertimbangkan efektivitas dan dampak jangka panjang bagi proses belajar
murid dari tindakan yang diambil (misalnya; pemberian hukuman bersifat dapat
menyelesaikan masalah dalam jangka pendek, tetapi berpotensi memberikan dampak
negatif dalam proses belajar pada anak yang bersifat jangka panjang). Dengan
begitu, pendidik fokus pada perubahan dan peningkatan perilaku yang menetap,
bukan hanya pada perilaku yang berhasil ditampakkan pada saat itu.
4. Menerapkan disiplin positif
berarti membekali murid dengan keterampilan sosial dan mendukung pertumbuhan
karakter yang baik seperti rasa hormat, kepedulian terhadap orang lain,
komunikasi yang efektif, pemecahan masalah, tanggung jawab kontribusi, kerja
sama.
5. Mengajak murid untuk
menemukan bagaimana mereka mampu dan dapat menggunakan kekuatan diri mereka
dengan cara yang membangun.
Disiplin Positif mengajarkan
orang dewasa untuk menggunakan kebaikan dan ketegasan pada saat yang sama,
serta tidak menghukum maupun permisif.
Disiplin positif
bukanlah :
o
Membiarkan peserta didik melakukan apa pun yang mereka inginkan
o
Tentang tidak memiliki aturan, batasan atau harapan
o
Tentang reaksi jangka pendek
o
Hukuman alternatif untuk menampar, memukul dan mempermalukan
Disiplin positif adalah :
o
Solusi jangka panjang yang mengembangkan disiplin diri peserta didik
o
Komunikasi yang jelas dan konsisten
o
Penguatan harapan, aturan, dan batasan Anda secara konsisten
o
Didasarkan pada mengenal peserta didik dan bersikap adil
o
Membangun hubungan yang saling menghormati dengan peserta didik
o
Mengajar peserta didik keterampilan seumur hidup dan menumbuhkan kecintaan
mereka belajar
o Mengajar sopan santun, tanpa kekerasan, empati, harga diri dan rasa hormat
untuk orang lain dan hak-hak mereka
o Meningkatkan kompetensi dan kepercayaan diri peserta didik untuk menangani tantangan
akademik dan situasi sosial yang sulit.
(Durrant, J. 2010. Positive
Discipline in Everyday Teaching: A guide for educators. Save the Children,
Sweden.)
Menerapkan pendekatan disiplin positif dapat membantu sekolah memainkan
peran penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil dan manusiawi. Murid
cenderung menjadikan orang dewasa sebagai model; jika murid melihat
orang dewasa menggunakan kekerasan fisik atau psikologis, mereka akan belajar
bahwa kekerasan dapat diterima sehingga ada kemungkinan mereka akan menggunakan
kekerasan terhadap orang lain. Sekolah memiliki peran penting dalam membimbing,
memperbaiki, dan mensosialisasikan kepada murid mengenai perilaku
yang sesuai. Agar perubahan berhasil, diperlukan pendekatan terkoordinasi yang
melibatkan semua peran di komunitas sekolah. Sekolah perlu bekerja dengan
orangtua untuk memastikan konsistensi antara rumah dan sekolah, serta membekali
mereka dengan informasi dan alat untuk mempraktikkan disiplin positif di rumah.

0 Response to "Budaya Positif"
Posting Komentar
Beri Komentar Yang Membangun