Pembelajaran Berdiferensiasi

Pengertian
Pembelajaran Berdiferensiasi
Bayangkanlah kelas yang
Anda ajar saat ini.
Ingatlah satu persatu murid di kelas Anda.
Bagaimanakah karakteristik setiap anak di kelas Anda? Tahukah Anda apa kekuatan
mereka? Bagaimana gaya belajar mereka? Apa minat mereka? Siapakah yang memiliki
keterampilan menghitung paling baik di kelas Anda? Siapakah yang sebaliknya?
Siapakah yang paling menyukai kegiatan kelompok? Siapakah yang justru selalu
menghindar saat bekerja kelompok? Siapakah yang level membacanya paling tinggi?
Siapakah murid yang masih perlu dibantu untuk meningkatkan keterampilan memahami
bacaan mereka? Siapakah yang paling senang menulis? Siapakah yang lebih senang
berbicara?
Setiap harinya, tanpa disadari, guru dihadapkan
oleh keberagaman yang banyak sekali bentuknya. Mereka secara terus menerus
menghadapi tantangan yang beragam dan kerap kali harus melakukan dan memutuskan
banyak hal dalam satu waktu. Keterampilan ini banyak yang tidak disadari oleh
para guru, karena begitu naturalnya hal ini terjadi di kelas dan betapa
terbiasanya guru menghadapi tantangan ini. Berbagai usaha mereka lakukan yang
tentu saja tujuannya adalah untuk memastikan setiap murid di kelas mereka
sukses dalam proses pembelajarannya.
Ibu Nur adalah guru kelas 3 SD dengan jumlah
murid sebanyak 32 murid. Di antara 32 murid di kelasnya tersebut, Bu Nur
memperhatikan bahwa 3 murid selalu selesai lebih dahulu saat diberikan tugas
menyelesaikan soal-soal perkalian. Karena dia tidak ingin ketiga anak ini tidak
ada pekerjaan dan malah mengganggu murid lainnya, akhirnya ia berinisiatif
untuk menyiapkan lembar kerja tambahan untuk 3 anak tersebut. Jadi jika
anak-anak lain mengerjakan 15 soal perkalian, maka untuk 3 anak tersebut, Bu
Nur menyiapkan 25 soal perkalian. Menurut Anda, apakah strategi yang dilakukan
oleh Ibu Nur tepat?
Menurut Tomlinson (2000), Pembelajaran
Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas
untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Namun demikian,
pembelajaran berdiferensiasi bukanlah berarti bahwa guru harus mengajar dengan
32 cara yang berbeda untuk mengajar 32 orang murid. Bukan pula berarti bahwa
guru harus memperbanyak jumlah soal untuk murid yang lebih cepat bekerja
dibandingkan yang lain. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukan berarti guru
harus mengelompokkan yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan yang
kurang. Bukan pula memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak.
Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah sebuah proses pembelajaran yang
semrawut (chaotic), yang gurunya kemudian harus membuat beberapa
perencanaan pembelajaran sekaligus, dimana guru harus berlari ke sana kemari
untuk membantu si A, si B atau si C dalam waktu yang bersamaan. Bukan. Guru
tentunya bukanlah malaikat bersayap atau Superman yang bisa ke sana kemari
untuk berada di tempat yang berbeda-beda dalam satu waktu dan memecahkan semua
permasalahan. Lalu seperti apa sebenarnya pembelajaran berdiferensiasi?
Pembelajaran
berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense)
yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid.
Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:
1. Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’
murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar
yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan
selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.
2. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan
secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan
pembelajaran, namun juga muridnya.
3. Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses
penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang
masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai
tujuan belajar yang ditetapkan.
4. Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya.
Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan
belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang
berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.
5. Manajemen
kelas yang efektif. Bagaimana
guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya
fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin
melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.
Jika kita mengacu ke kasus Ibu Nur diatas, maka keputusannya untuk memberikan soal tambahan, dengan jenis soal yang tetap sama serta tingkat kesulitan yang juga sama, kepada tiga murid yang selesai terlebih dahulu, belum dapat dikatakan sebagai diferensiasi. Apalagi, tujuan diberikannya soal tadi adalah agar tiga murid tersebut ada ‘pekerjaan’ sehingga tidak mengganggu murid yang lain. Pembelajaran berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar murid dan bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut. Dengan demikian, Ibu Nur perlu melakukan identifikasi kebutuhan belajar dengan lebih komprehensif, agar dapat merespon dengan lebih tepat terhadap kebutuhan belajar murid-muridnya, termasuk ketiga murid tersebut.
Memetakan Kebutuhan Belajar Murid
Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek.
Ketiga aspek tersebut
adalah:
- Kesiapan belajar (readiness)
murid
- Minat murid
- Profil belajar
murid
Sebagai guru, kita
semua tentu tahu bahwa murid akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas
yang diberikan sesuai dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki
sebelumnya (kesiapan belajar). Lalu
jika tugas-tugas tersebut memicu keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang
murid (minat), dan jika tugas itu memberikan kesempatan bagi mereka untuk
bekerja dengan cara yang mereka sukai (profil belajar).
1. Kesiapan Belajar (Readiness)
Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata “Kesiapan Belajar”?
Bayangkanlah situasi berikut ini: Dalam pelajaran bahasa Indonesia, Bu Nur ingin mengajarkan
muridnya membuat karangan berbentuk narasi. Ia kemudian melakukan penilaian
diagnostik. Ia menemukan bahwa ada tiga kelompok murid di kelasnya.
- Kelompok A adalah murid yang telah memiliki
keterampilan menulis dengan struktur yang benar dan memiliki kosakata yang
cukup kaya. Mereka juga cukup mandiri dan percaya diri dalam bekerja.
- Kelompok B adalah murid yang memiliki
keterampilan menulis dengan struktur yang benar, namun kosakatanya masih
terbatas.
- Kelompok
C adalah
murid yang belum memiliki keterampilan menulis dengan struktur yang benar
dan kosakatanya pun terbatas
Apa yang dilakukan oleh Bu Nur di atas adalah memetakan
kebutuhan belajar berdasarkan kesiapan belajar.
1. Kesiapan Belajar
Kesiapan belajar
(readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru. Sebuah tugas yang
mempertimbangkan tingkat kesiapan murid akan membawa murid keluar dari zona
nyaman mereka, namun dengan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang
memadai, mereka tetap dapat menguasai materi baru tersebut.
Ada banyak cara untuk membedakan kesiapan belajar. Tomlinson (2001) mengatakan
bahwa merancang pembelajaran berdiferensiasi mirip dengan menggunakan tombol
equalizer pada stereo atau pemutar CD. Untuk mendapatkan kombinasi suara
terbaik biasanya Anda akan menggeser-geser tombol equalizer tersebut terlebih
dahulu. Saat Anda mengajar, menyesuaikan “tombol” dengan tepat untuk berbagai
kebutuhan murid akan menyamakan peluang mereka untuk mendapatkan materi, jenis
kegiatan dan menghasilkan produk belajar yang tepat di kelas Anda.
Tombol-tombol dalam equalizer tersebut mewakili beberapa perspektif
kontinum yang dapat digunakan untuk menentukan tingkat kesiapan murid. Dalam
modul ini, kita akan mencoba membahas 6 dari beberapa contoh perspektif
kontinum tersebut, dengan mengadaptasi alat yang disebut Equalizer yang
diperkenalkan oleh Tomlinson (Tomlinson, 2001).
A. Bersifat mendasar -
Bersifat transformatif
Saat sebagian murid dihadapkan pada sebuah ide yang baru,
atau jika ide itu bukan di salah satu bidang yang dikuasai oleh murid, mereka
sering membutuhkan informasi pendukung yang lebih jelas, sederhana, dan tidak
bertele-tele untuk memahami ide tersebut. Mereka akan perlu waktu untuk
berlatih menerapkan ide secara langsung. Jika murid berada dalam tingkatan ini,
maka bahan-bahan materi yang mereka gunakan dan tugas-tugas yang mereka lakukan
harus bersifat mendasar dan disajikan dengan cara yang membantu mereka
membangun landasan pemahaman yang kuat. Di lain waktu, ketika murid dihadapkan
pada ide-ide yang telah mereka pahami atau berada di area yang menjadi kekuatan
mereka, maka dibutuhkan informasi yang lebih rinci dari ide tersebut. Mereka
perlu melihat bagaimana ide tersebut berhubungan dengan ide-ide lain untuk
menciptakan pemikiran baru. Kondisi seperti itu membutuhkan bahan dan tugas
yang lebih bersifat transformatif.
B. Konkret - Abstrak
Di lain kesempatan, guru mungkin dapat mengukur
kesiapan belajar murid dengan melihat apakah mereka masih di tingkatan perlu
belajar secara konkret atau sudah siap bergerak mempelajari sesuatu yang lebih
abstrak
C. Sederhana - Kompleks
Beberapa murid mungkin perlu bekerja dengan materi
lebih sederhana dengan satu abstraksi pada satu waktu; yang lain mungkin bisa
menangani kerumitan berbagai abstraksi.
D. Terstruktur - Open
Ended
Kadang-kadang murid perlu menyelesaikan tugas yang
ditata dengan cukup baik untuk mereka, di mana mereka tidak memiliki terlalu
banyak keputusan untuk dibuat. Namun, di waktu lain, murid siap menjelajah dan
menggunakan kreativitas mereka.
E. Tergantung
(dependent) - Mandiri (Independent)
Walaupun pada akhirnya kita mengharapkan bahwa semua murid kita dapat belajar, berpikir dan menghasilkan pekerjaan secara mandiri, namun sama seperti tinggi badan, mungkin seorang anak akan lebih cepat bertambah tinggi daripada yang lain. Dengan kata lain, beberapa murid mungkin akan siap untuk kemandirian yang lebih awal daripada yang lain.
F. Lambat - Cepat
Beberapa murid dengan kemampuan yang baik dalam suatu
mata pelajaran mungkin perlu bergerak cepat melalui materi yang telah ia kuasai
atau sedikit menantang. Tetapi di lain waktu, murid yang sama mungkin akan
membutuhkan lebih banyak waktu daripada yang lain untuk mempelajari sebuah
topik.
The Equalizer (Tomlinson)
Perlu diingat bahwa kesiapan
belajar murid bukanlah tentang tingkat intelektualitas (IQ). Hal ini lebih
kepada informasi tentang apakah pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki
murid saat ini, sesuai dengan keterampilan atau pengetahuan baru yang akan
diajarkan. Adapun tujuan melakukan pemetaan kebutuhan belajar murid
berdasarkan tingkat kesiapan belajar adalah untuk memodifikasi tingkat
kesulitan pada bahan pembelajaran, sehingga dipastikan murid terpenuhi
kebutuhan belajarnya (Joseph, Thomas, Simonette & Ramsook, 2013).
2. Minat Murid
Kita tahu bahwa seperti
juga kita orang dewasa, murid juga memiliki minat sendiri. Ada murid yang minat
nya sangat besar dalam bidang seni, matematika, sains, drama, memasak,
dsb. Minat adalah salah satu motivator penting bagi murid untuk
dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran.Tomlinson (2001) menjelaskan
bahwa mempertimbangkan minat murid dalam merancang pembelajaran memiliki tujuan
diantaranya:
- Membantu murid menyadari bahwa ada kecocokan
antara sekolah dan keinginan mereka sendiri untuk belajar;
- Menunjukkan
keterhubungan antara semua pembelajaran;
- Menggunakan
keterampilan atau ide yang familiar bagi murid sebagai jembatan untuk
mempelajari ide atau keterampilan yang kurang familiar atau baru bagi
mereka, dan;
- Meningkatkan motivasi murid untuk belajar.
Sepanjang tahun, murid
yang berbeda akan menunjukkan minat pada topik yang berbeda. Gagasan untuk
membedakan melalui minat adalah untuk "menghubungkan" murid pada
pelajaran untuk menjaga minat mereka. Dengan menjaga minat murid tetap tinggi,
diharapkan dapat meningkatkan kinerja murid.
Ide Minat Belajar
Beberapa ide yang
dapat dilakukan untuk meningkatkan dan mempertahankan minat diantaranya
misalnya:
- Meminta murid untuk memilih apakah mereka
ingin mendemonstrasikan pemahaman dengan menulis lagu, melakukan
pertunjukan atau menari.
- Menggunakan teknik Jigsaw dan pembelajaran
kooperatif.
- Menggunakan strategi investigasi kelompok
berdasarkan minat.
- Membuat kegiatan “sehari di tempat kerja”.
Murid diminta mempelajari bagaimana sebuah keterampilan tertentu
diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Mereka boleh memilih profesi yang
sesuai minat mereka.
- Membuat model.
3. Profil Belajar Murid
Profil belajar murid
terkait dengan banyak faktor, seperti: bahasa, budaya, kesehatan, keadaan
keluarga, dan kekhususan lainnya. Selain itu juga akan berhubungan dengan gaya
belajar seseorang. Menurut Tomlinson (dalam Hockett, 2018) profil belajar murid
ini merupakan pendekatan yang disukai murid untuk belajar, yang dipengaruhi
oleh gaya berpikir, kecerdasan, budaya, latar belakang, jenis kelamin, dll.
Tujuan dari pemetaan kebutuhan belajar murid
berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid
untuk belajar secara natural dan efisien. Namun demikian, sebagai guru,
kadang-kadang kita secara tidak sengaja cenderung memilih gaya belajar yang
sesuai dengan gaya belajar kita sendiri. Padahal kita tahu setiap
anak memiliki profil belajar sendiri. Memiliki kesadaran tentang ini sangat
penting agar guru dapat memvariasikan metode dan pendekatan mengajar mereka.
Penting juga untuk diingat bahwa kebanyakan orang lebih suka kombinasi profil.
Menurut Tomlinson (2001), ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi
pembelajaran seseorang. Berikut ini adalah beberapa yang harus diperhatikan:
- Lingkungan: suhu, tingkat aktivitas,
tingkat kebisingan, jumlah cahaya.
- Pengaruh Budaya: santai - terstruktur,
pendiam - ekspresif, personal - impersonal.
- Visual: belajar dengan melihat (diagram,
power point, catatan, peta, grafik organisator).
- Auditori: belajar dengan mendengar
(kuliah, membaca dengan keras, mendengarkan musik).
- Kinestetik: belajar sambil melakukan
(bergerak dan meregangkan tubuh, kegiatan hands
on, dsb).
Berdasarkan pemaparan mengenai ketiga aspek dalam mengkategorikan kebutuhan belajar murid, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa untuk mengoptimalkan pembelajaran dan tentunya hasil dari pembelajaran murid diperlukan pembelajaran yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan belajar murid. Berikut adalah contoh pemetaan kebutuhan belajar murid.
Ketiga aspek pemetaan kebutuhan belajar harus menjadi dasar dalam proses pembelajaran berdiferensiasi. Ada tiga strategi pembelajaran berdiferensiasi yaitu diferensiasi konten, proses, dan produk. Agar lebih mendalam pemahaman tentang strategi pembelajaran diferensiasi silakan simak video berikut.
Lingkungan yang mendukung pembelajaran berdiferensiasi adalah adanya komunitas belajar yang memiliki karakteristik sebagai berikut.
1. Setiap orang dalam kelas akan menyambut dan merasa disambut dengan baik
2. Setiap orang di dalam kelas saling menghargai
3. Murid akan merasa nyaman
4. Ada harapan bagi pertumbuhan
5. Guru mengajar untuk mencapai kesuksesan
6. Ada keadilan dalam bentuk yang nyata
7. Guru dan murid berkolaborasi untuk pertumbuhan dan kesuksesan bersama
Silakan simak video berikut tentang lingkungan yang mendukung pembelajaran diferensiasi.
Setelah dijelaskan tentang pembelajaran diferensiasi, karakteristik, strategi, dan lingkungan yang mendukung pembelajaran diferensiasi. Berikutnya adalah contoh RPP berdiferensiasi.

0 Response to "Pembelajaran Berdiferensiasi"
Posting Komentar
Beri Komentar Yang Membangun